DOMAIN ANDA AKAN BERAKHIR PADA TANGGAL 2010-09-08 00:00:00

SEGERA HUBUNGI SITEKNO UNTUK MELAKUKAN PERPANJANGAN DOMAIN [TUTUP]

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?

Artikel Terbaru
Komentar
Online dgn Atik's

Login Yahoo! Mesenger

 

 


 

 

 

Atik's Share File

 

-----------------------------------

     

 

Selamat Datang
image

Dr. H. Atik Sutisna, SpAn. MM

sutisna.atik@yahoo.com


- Wakil Direktur -
RS Putera Bahagia
Jl. Ciremai Raya 114 Cirebon

- Wakil Dekan I (Akademik)
Fakultas Kedokteran
Universitas Swadaya Gunung Jati (UNSWAGATI) Cirebon
Jl. Pemuda no. 32 Cirebon
Kategori
Arsip
SLINK
Atik's Link
Buku Tamu


ShoutMix chat widget

Pemahaman Disfungsi Ereksi, untuk Keharmonisan Hubungan Suami Istri

image

PROBLEMA SEKSUAL  

Hubungan seksual  suami istri, pada dasarnya tidak selalu di identikan  semata-mata untuk menghasilkan keturunan (prokreasi),   juga sangat bermakna untuk kesenangan (rekreasi) bagi pasangan tersebut. Tidak bisa dipungkiri bahwa, suasana dan hasil yang menyenangkan dari hubungan seksual suami istri,  akan menambah kasih sayang diantar keduanya, dan secara keseluruhan berdampak positip dalam kehidupan berkeluarga.

Terdapat bermacam-macam gangguan fungsi seksual pada laki-laki, yang dapat menggangu kebahagian rumah tangga dalam hubungan seksual bersama istrinya, yang disebut disfungsi seksual laki-laki (DSL), antara lain adalah :

 


1.     Gangguan dorongan (hasrat) seksual  :

·         Gangguan dorongan hipo aktif

·         Gangguan aversi seksual

2.     Gangguan ereksi :

·         Disfungsi Ereksi (DE)

·         Ereksi berkepanjangan (prolonged erection = priapismus)

3.     Gangguan Ejakulasi :

·         Ejakulasi dini (rapid ejaculation)

·         Ejakulasi terhambat (retarded ejaculation)     

4.     Gangguan Orgasme                         

Monyet Malu                   

Disfungsi  ereksi (DE), atau dalam istilah awam disebut impoten (maksudnya mungkin DE stadium berat)  merupakan salah satu faktor yang menyebabkan gangguan kesenangan dan kebahagiaan bagi pasangan suami istri, yang dapat berdampak pada  harmonisasi hubungan keluarga secara keseluruhan. Seorang suami yang mengalami keadaan ini tentu tidak dapat dibiarkan berlarut-larut, dan harus segera diatasi serta diselesaikan dengan baik. Tentu saja tidak dapat diselesaikan dengan cepat, karena banyak faktor yang mempengaruhinya, tetapi harus dilaksanakan dengan sabar,dan penting sekali faktor  bantuan,perhatian serta pengertian sepenuhnya dari sang istri.

 

Menurut penelitian, DE terjadi pada satu dari 10 pria , 10- 40 % terjadi mulai umur 40 tahun, dan 25 -70 % terjadi pada umur di atas 70 tahun; tetapi sekitar 10-15 %  DE terjadi  juga pada usia muda ( 20-30 tahun). Dari jumlah itu, DE terjadi karena sang pria mempunyai hasrat seksual yang rendah (20 %), sebagian lagi (64 %) disebabkan sang pria mengalami satu atau lebih kondisi seperti hipertensi,sakit jantung, diabetes mellitus dan lain-lain, tapi faktor yang  paling menonjol adalah karena depresi/stress yang cukup berat. Bahkan saat ini,menurut penelitian di Eropa, India dan Amerika Serikat, secara keseluruhan, dari semua kasus gangguan fungsi seksual pada laki-laki ( DSL ), 50 % adalah disebabkan karena  terjadinya Disfungsi Ereksi. ( DE ).

 

 

APA SEH  SEBENARNYA DISFUNGSI EREKSI  (DE)

 

Para andrologist ,  lebih senang memakai nomenklatur DE daripada impoten, karena impoten terkesan suatu vonis “ mematikan” yang tidak dapat disembuhkan, yang dapat membuat seorang laki-laki jadi frustasi, padahal banyak bukti penelitian yang menyatakan bahwa, sebenarnya hanya suatu keadaan disfungsi (kurang berfungi) dari penis sang laki-laki, yang dapat disembuhkan dengan baik,dengan berbagai metoda terapi.

Masalah

Disfungsi Ereksi (DE) adalah ketidakmampuan seksual laki-laki, yang ditandai dengan ketidak mampuan untuk memulai, mencapai dan mempertahankan ereksi yang berkualitas, yang dapat memuaskan kebutuhan seksual dirinya sendiri, maupun istrinya.



Yang dimaksud dengan “kemampuan“ antara lain meliputi

  • Banyaknya stimulasi(rangsangan) yang diperlukan  untuk bisa ereksi
  • Lamanya waktu yang diperlukan untuk bisa ereksi
  • Kualitas ereksi ( “kekerasan “  penis waktu ereksi)
  • Bisa tidaknya mencapai puncak orgasme ( pada laki-laki, umumnya   puncak orgasme bersamaan dan atau ditandai dengan ejakulasi )
  • Kuantitas (jumlah) ejakulasi
  • Lamanya tenggat waktu antar ereksi (waktu yang diperlukan dari ereksi pertama  ke ereksi  yang berikutnya)

  Hati2

Karena itu berhati-hatilah kaum laki-laki, akan kemungkinan terjadinya  DE, bila mengalami tanda-tanda atau gejala-gejala seperti  :

 

  • Kurang/tidak mampu ereksi  dan atau tidak mampu mempertahankan ereksi, secara berulang (sedikitnya dalam kurun waktu  tiga sampai enam bulan)
  • Tidak mampu mencapai  ereksi yang konsisten
  • Ereksi terjadi dalam waktu singkat (sesaat), baik sebelum atau sesaat setelah penetrasi  vagina
  • Tidak terjadi ereksi  waktu subuh/pagi hari, saat bangun tidur, terus menerus lebih dari tiga bulan.



FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA  DE

 

1.     FAKTOR ORGANIK

  • Proses penuaan : proses ini wajar dan alamiah/fisiologis, dengan bertambah usia, wajarlah kalau terjadi penurunan fungsi, baik yang meliputi sistem jantung dan aliran darah, persarafan, hormonal dan lain-lain, meskipun tidak mempunyai penyakit tertentu ( “sehat” ).
  • Kelainan pada organ penisnya, cedera pada penis.
  • Penyakit-penyakit yang mengganggu kelancaran aliran darah seperti : hipertensi, diabetes mellitus ( kencing manis), penyakit janyung dan sebagainya
  • Pembesaran kelenjar prostat
  • Operasi ortopedi ( tulang) di daerah pinggul dan pangkal paha
  • Radioterapi di daerah pinggul
  • Kerusakan saraf tulang belakang (spinal cord)
  • Gangguan hormonal, terutama hormon testosteron
  • Kegemukan/obesitas


2.       FAKTOR  NON ORGANIK

  • Kebiasaan merokok dan alkohol
  • Konsumsi obat-obatan seperti penenang, simetidin (untuk menekan   asam lambung), anti hipertensi, narkotika dan sebagainya
  • Konsumsi obat-obat aphrodisiaca (perangsang), amfetamin, erektogenik 


3.     FAKTOR  PSIKOLOGIS :

 

  • Cemas, sakit hati, rasa bersalah, paranoid
  • Depresi, pertengkaran, rasa letih, cemburu berlebihan
  • Dilecehkan istri atas kemampuan hubungan seksual suami
  • Istri hanya melayani hubungan seksual sebatas kewajiban, berdandan/berpakaian sekedarnya (beda kalau istri mau ke supermarket atau jalan-jalan) dan sebagainya
  • Kehilangan daya tarik/rangsangan dari istri, trauma hubungan seksual sebelumnya
  • Penurunan hasrat seksual oleh berbagai faktor.


Dari semua faktor tersebut di atas, kasus DE paling banyak terjadi akibat faktor organik (80%), namun tetap sulit untuk membedakan, mengingat ketiga faktor tersebut saling berkaitan, baik langsung maupun tidak langsung.

 Penggris

Apakah terdapat hubungan antara ukuran penis (panjang, diameter)

serta besaran kepala penis (glans penis) dengan DE ???

 

Pada umumnya  kaum laki-laki sering merasa rendah diri bila merasa penisnya lebih kecil dibandingkan dengan penis orang lain. Hal ini akan menimbulkan rasa tidak percaya diri, apalagi kalau istrinya sering mengeluh kurang puas atas hubungan seksual di antara mereka, terutama kalau pasangan tersebut sering melihat film porno di mana ukuran penis sang laki-laki tampak panjang dan besar., yang memang dipergunakan untuk eksploitasi seks agar memuaskan fihak wanita.

Padahal secara fisik, sebenarnya ukuran penis tidak menentukan bagi fungsi ereksi dan fungsi seksual pada umumnya, asal perkembangannya sudah mencapai tahap perkembangan yang normal.

Mesra
     
"Sebenarnya hanya fungsi ereksi yang optimal dan kemampuan mengontrol ejakulasi, yang diperlukan agar hubungan seksual berlangsung dengan baik, bagi pihak pria sendiri maupun pasangannya.”


Mengenai ukuran penis yang normal, berdasarkan penelitian yang dilakukan  terhadap pria dewasa di singapura pada tahun 2000 menunjukkan ukuran panjang rata-rata sekitar 8 cm pada saat tidak ereksi, yang bertambah menjadi sekitar 12 cm pada saat ereksi. ukuran lingkar penis sekitar 8,5 cm pada saat tidak ereksi dan sekitar 11 cm pada saat ereksi.


Hasil penelitian Welles dan kawan-kawan pada etnik kaukasia (1996),  menunjukkan bahwa ukuran panjang rata-rata penis 8,8 cm dalam keadaan tidak ereksi dan menjadi 12,9 cm pada saat ereksi. ukuran lingkarannya 9,7 cm dalam keadaan tidak ereksi dan menjadi 12,3 pada saat ereksi.

Beckham Will Smith Jacky Chan Tukul

"penelitian ini menunjukkan bahwa, tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara ukuran penis pria dari semua etnik,  baik pada saat tidak ereksi maupun saat ereksi,"


Data ini sekaligus membantah informasi yang salah, yang seakan-akan telah menjadi mitos bahwa etnik tertentu mempunyai ukuran penis yang luar biasa, dan tidak ada hubungan langsung antara ukuran penis yang lebih kecil dengan kejadian DE.


Persoalan lain adalah, sering keadaan DE ini tidak di sadari atau tidak terdeteksi lebih awal, sehingga banyak kasus baru muncul setelah gejala cukup berat, sehingga penyembuhannya memerlukan waktu yang cukup lama.

Ternyata hal ini disebabkan beberapa hal, antara lain adalah :


Kurangnya pengetahuan tentang hubungan seksual, mitos, stigma dan tabu, bahwa urusan seksual tidak boleh dibicarakan secara terbuka, apalagi pada orang lain, diluar pasangan suami istri

Rasa malu dan rendah diri yang berlebihan kalau dirinya mengalami DE, takut di ejek istri dan atau keluarga serta masyarakat  yang mengenalnya.

Karena itu, bila anda menemui atau mengalami tanda-tanda DE, jangan berdiam diri, berbicara pada  istri anda dan bersama-sama konsultasi dengan dokter anda.

 



PATOFISIOLOGIS

Stestoskop Mitos


Mekanisme terjadinya disfungsi ereksi menurut Hilsted dan Low (1993) merupakan kombinasi neuropati otonom dan keterlibatan arteriosklerosis arteri pudenda interna.


Menurut Moreland (sebagaimana dikutip oleh Wibowo, 2007) ada dua pandangan utama patofisiologi kasus disfungsi ereksi, pada hipotesis pertama perubahan yang dipengaruhi tekanan oksigen pada penis selama ereksi ditujukan untuk mempengaruhi struktur korpus kavernosum dengan cara menginduksi sitokin yang bermacam–macam.


Faktor vasoaktif dan faktor pertumbuhan pada kondisi tekanan oksigen yang berbeda akan mengubah metabolisme otot polos dan sintesis jaringan ikat. Penurunan rasio antara otot polos dengan jaringan ikat pada korpus kavernosum dihubungkan dengan meningkatnya vena difus dan kegagalan mekanisme penyumbatan Vena.


Hipotesis tersebut menyertakan bukti adanya perubahan pada fase ereksi penis malam hari dan perubahan sirkadian hubungannya dengan oksigenasi yang penting dalam pengaturan ereksi sehat. Hipotesis yang lain menyatakan bahwa disfungsi ereksi adalah hasil dari ketidakseimbangan metabolik antara proses kontraksi dan relaksasi di dalam otot polos trabekula, misalnya dominasi proses kontraksi. Kedua hiptesis ini dikaitkan dengan strategi pengangana DE.


Menurut Barton dan Jouber (2000), pada kasus–kasus dengan penyebab biologis jelas (misal neuropati diabetika), pengobatan dan akibat dalam jangka panjang kelainan seksual sekunder tersebut akan terpengaruh juga oleh faktor psikoseksual. Penyebab organik DE termasuk vaskuler, neurologik (saraf), hormonal, penyakit, atau obat–obatan tertentu dan sejumlah orang mempunyai faktor penyebab ganda. Pada faktor neurologik dapat berupa: stroke, penyakit demielinasi, kelainan dengan bangkitan atau kejang, tumor atau trauma sumsum belakang dan kerusakan saraf tepi.


Dua pertiga kasus DE adalah organik dan kondisi komorbid sebaiknya dievaluasi secara aktif. Penyakit vaskular dan jantung ( terutama yang berhubungan dengan hiperlipidemia, diabetes, dan hipertensi ) berkaitan erat dengan disfungsi ereksi. Kombinasi kandisi-kondisi ini dan penuaan meningkatkan resiko DE pada usia lanjut. Permasalahan hormonal dan metabolik lainnya, termasuk hipogonadisme primer dan sekunder, hipotiroidisme, gagal ginjal kronis, dan gagal hati juga berdampak buruk pada DE(Vary,2007).

DE iatrogenik dapat disebabkan oleh gangguan saraf pelvis atau pembedahan prostat, kekurangan glisemik, tekanan darah, kontrol lipid dan banyak medikasi yang umum, digunakan dalam pelayanan primer. Obat anti hipertensi khususnya diuretik dan central acting agents dapat menyebabkan DE. Begitu pula digoksin psikofarmakologic agents termasuk beberapa antidepresan dan anti testosteron hormon. Kadar testosteron memang sedikit menurun dengan bertambahnya usia namun yang berkaitan dengan DE adalah minoritas pria yang benar-benar hipogonadisme yang memiliki kadar testosteron yang rendah (Vary,2007).



DIAGNOSIS DISFUNGSI EREKSI

  Dokter

Menegakkan diagnosis DE pada dasarnya mempunyai dua tujuan penting, yaitu :

 

  1. Membedakan DE dengan disfungsi seksual yang lain, misalnya dengan gangguan dorongan(hasrat) seksual atau ejakulasi dini, karena gejala awalnya sama yaitu gangguan ereksi
  2. Menentukan penyebab utama DE 

Diagnosis DE dapat dilakukan dengan pemeriksaan dan evaluasi  sebagai berikut :

  1. Riwayat hubungan seksual, penyakit yang pernah diderita, psikoseksual
  2. Erectile Disfunction Intensity Scale ( EDIS  ). EDIS atau disebut juga IIEF-5, adalah lima pertanyaan yang diambil dari 15 pertanyaan standar pada Internasional Index of Erectile Function. Hasil yang diperoleh akan menentukan tingkat ringan-beratntnya DE yang diderita, misalnya, nilai 21- 25 berarti ereksi normal dan nilai 5-10 berati DE berat.
  3. Pemeriksaan fisik dan laboratorium penunjang
  4. Pemeriksaan opsional, meliputi konsultasi psikologis/psikiatris, konsultasi seksual
  5. Pemeriksaan spesialistik, terutama untuk evaluasi psikologis yang lebih mendalam,      pemeriksaan khusus endokrinologis(hormonal), neurofisiologis dan sebagainya. Mungkin diperlukan pula pemeriksaan dengan RIGISCAN, untuk mengetahui terjadinya ereksi dan rigiditas penis secara objektif. Hal ini sangat baik untuk evaluasi uji klinik,  yang akan mencatat secara objektif terjadinya ereksi dan rigiditas setelah pemberian obat-obat tertentu.


PENGOBATAN 


Pengabatan DE, harus ditujukan pada penyebab utamanya,. Tanpa menghilangkan penyebab utama, agak sulit dan cukup lama pengobatannya, karena sasaran utama yang ingin dicapai adalah untuk mengembalikan fungsi ereksi.

Beberapa tahap metoda pengobatan DE, untuk membantu mengembalikan fungsi ereksi,di antaranya adalah :


  • Konsultasi seksual

          Konsultasi

Yang pada dasarnya meliputi terapi seks bersama pasangannya, terapi psikoseksual dan terapi marital.

  • Pemberian obat-obatan per oral (terapi oral )

         Makan Obat

Berupa obat-obatan yang dapat dimakan, antara lain adalah obat-obatan golongan PDE5 inhibitors (pengahambat PDE5) seperti tadalafil, vardenafil , sildenafil.

  • Terapi hormon testosteron, biasanya tiga bulan sekali
  • Terapi lokal
  • Penyuntikan semacam gel intra uretra (saluran kencing di penis)
  • Pemasangan prostesis (semacam implant) dalam penis
  • Pembedahan mikro

Melakukan semacam operasi by-pass ( seperti pada operasi jantung ) untuk mengatur agar sirkulasi darah ke dan dari penis berlangsung normal dan baik .


  • Shalat

         Shalat


Sebuah studi ilmiah di Malaysia mengungkap manfaat dari ibadah shalat, tidak hanya meningkatkan iman seseorang, tapi melakukannya dengan gerakan yang benar juga bermanfaat untuk Kesehatan mental & fisik, termasuk menyembuhkan Disfungsi Ereksi.


Penelitian ini dikethuai Kepala Biomedical Engineering Department di Universitas Malaya, Prof Madya Dr Fatimah Ibrahim beranggotakan Prof. Dr. Wan Abu Bakar Wan Abas dan Ng Siew Cheok. Menurut Fatimah Ibrahim,  berdasarkan hasil studi mereka menemukan shalat dapat membantu pasien penderita Disfungsi Ereksi.

 
Mengutip hasil studi peneliti sebelumnya Marijke Van Kampen, Dr. Fatimah mengatakan olahraga untuk otot bawah panggul bisa memperlancar sirkulasi darah dan mengurangi gejala penyakit disfungsi Ereksi.


 
"Percobaan yang kami lakukan terhadap dua orang pasien penderita disfungsi ereksi, menunjukkan adanya perbaikan yang cepat (dalam hal kesehatan seksual mereka),  setelah menjalani "terapi shalat" selama satu bulan," katanya kepada para wartawan setelah pembukaan seminar nasional "Shalat Science” di Masjid Wilayah Persekutuan, Malaysia.

 

 Ruku   

 

Posisi Rukuk

Menurut Ng Siew Chok yang menjalankan kajian otak dalam dalam penelitian ini mengatakan, setiap pergerakan manusia menghasilkan corak gelombang otak yang tertentu dan unik.
Gelombang otak yang dihasilkan ketika pergerakan meliputi gelombang alfa, beta dan gamma.
Kajian akan dilakukan atas gelombang otak yang dihasilkan ketika bersslat pada setiap posisi seperti rukuk, sujud, I’tidal dan duduk saat tahiyat.

"Shalat jelas secara umumnya melibatkan bacaan serta penghayatan ayat suci Al-Quran, doa-doa serta pergerakan yang didapati menyamai meditasi.

"Semasa solat, berhenti seketika sebelum berganti posisi atau tuma’ninah dapat dikatakan seseorang berada dalam masa ketenangan," katanya.

Dalam kajian ini isyarat otak subjek Muslim yang bershalat direkam dan dianalisis, di mana dua kajian saintifik dilakukan yaitu pada perobahan isyarat otak saat tuma’ninah dan kesan shalat kepada isyarat otak.

Hasilnya, kata Siew Cheok, didapati shalat menghasilkan keadaan tenang kepada otak manusia dan menunaikan shalat amat baik dalam mengekalkan tahap kestabilan mental dan emosi seseorang.

Posisi rukuk dan sujud  bisa digunakan sebagai terapi, karena gerakan itu membuat tulang belakang menjadi rileks dan mengurangi tekanan pada syaraf tulang belakang.

Dalam penelitian Prof Dr Wan Azman Wan Ahmad, konsultan spesialis jantung di UM Medical Centre, menemukan bahwa detak jantung dapat berkurang kecepatannya hingga 10 kali dalam satu menit pada posisi sujud, di mana kening, hidung, tangan dan lutut kaki menyentuh tanah.
Ia mengatakan, 12 raka'at shalat sama dengan 30 menit olahraga ringan setiap hari seperti yang dianjurkan oleh ahli-ahli kesehatan

  
Shalat


Tahajjud
Sebelum temuan ini, Dr. Mohammad Sholeh asal Indonesia melakukan penelitian hubungan shalat tahajjud dan dampaknya bagi kesehatan. Penelitian menunjukkan, shalat tahajjud yang dilakukan secara ikhlas dan kontinyu, ternyata mengandung aspek meditasi dan relaksasi sehingga dapat digunakan sebagai coping mechanism atau pereda stres yang akan meningkatkan ketahanan tubuh seseorang secara natural.


 

  • Rutinitas  bercinta/  hubungan seksual suami istri.
  • Aura Kasih Mesra

Lima tahun terakhir, penelitian yang dimuat dalam American Journal of Medicine, sebanyak 989 pria berusia 55 sampai 75 tahun yang masih masih teratur melakukan seks dalam sepekan dapat menurunkan risiko terjangkit disfungsi ereksi.

 
Dalam peneltian yang dilansir dari The Sun, pria yang melakukan seks satu kali dalam sepekan memiliki resiko dua kali lipat untuk mengalami disfungsi ereksi, dibandingkan dengan pria yang rutin melakukan hubungan seksual seminggu tiga kali.

 
Bila rutinitas menyita waktu olahraga Anda, berhubungan intim dengan pasangan bisa membuat otot-otot tubuh terbentuk. Tentu ini bukan hanya omong kosong belaka.

Bercinta adalah salah satu olahraga kardiovaskular yang mampu membakar 300 kalori dalam satu jam. Kenikmatan selain orgasme yang bisa diraih ialah seks bisa membantu meredakan stres.

Ketika seseorang merasa puas dalam bercinta, pengiriman zat dopamine dalam tubuh mengalami peningkatan. Ini bisa memperbaiki serta menetralkan hormon stres.

 

  • Olah raga
  • Treadmill Jogging

Olah raga apalagi kalau dilakukan secara rutin, bukan saja baik untuk kesehatan secara umum, tetapi juga merupakan salah satu faktor penting untuk pencegahan disfungsi ereksi,
Pada penderita DE, olah raga saja, tentu tidak cukup untuk mengobati penyakit tersebut, tetapi olah raga dapat mempercepat proses penyembuhan DE, karena dengan berolah raga secara rutin, tentu saja aliran darah ke jaringan tubuh manapun akan berlangsung secara baik dan optimal.
Aliran darah yang baik dan optimal ini, tentu saja sangat diperlukan untuk optimalisasi sirkulasi darah ke dan dari penis, yang sangat menunjang proses ereksi.
Pada dasarnya tidak terlalu diperlukan olah raga yang serius atau berat, menurut penelitian W Pangkahila, jogging selama 30 menit, teratur minimal tiga kali seminggu, sudah cukup untuk memperbaiki sirkulasi darah dan metabolisme tubuh, Dengan demikian, faktor ini dapat mencegah terjadinya DE, sedangkan pada penderit DE akan mempercepat proses penyembuhan DE nya.




KESIMPULAN

 

       Problema seksual, dalam hal ini adalah disfungsi ereksi, merupakan salah satu faktor yang dapat mengganggu kebahagiaan, kerukunan dan keceriaan dalam kehidupan suami istri. Disfungsi ereksi pada dasarnya dapat terjadi pada semua tingkatan umur seorang suami/laki-laki dewasa, meskipun pada orang yang “ sehat “ , faktor bertambahnya umur tentu amat berpengaruh, hal ini adalah wajar dan alamiah, karena makin lanjut usia, tentu berbagai fungsi tubuh akan mengalami penurunan, termasuk hasrat/rangsangan seksual maupun sirkulasi darah ke dan dari penis akan menurun secara perlahan tetapi pasti, sehingga dapat terjadi gangguan fungsi seksual. Apalagi bagi suami/laki-laki yang menderita penyakit tertentu, tentu saja keadaan disfungsi ereksi ini gejalanya lebih nyata dan lebih berat kondisinya.

      Pada prinsipnya, keadaan disfungsi ereksi bukanlah suatu vonis “ mati “  yang tidak dapat di atasi. Berbagai cara  metoda dan teknik pengobatan dapat dilakukan untuk mengatasi kondisi ini, baik dengan pengobatan oral atau teknis medis yang lain. Tapi karena problema seksual adalah masalah psikobiologis , maka terapi untuk masalah fisik/biologis saja tidak akan memadai atau tidak akan mencapai hasil yang optimal tanpa bantuan faktor psikis. Karena itu perlu sekali bantuan dari seorang istri untuk selalu men” support” faktor kejiwaan seorang suami, dengan memberi pengertian, perhatian, kasih sayang dan sebagainya, agar makin meningkatkan rasa percaya diri, sehingga dapat mempercepat proses recovery/pemulihan fungsi seksual sang suami

     Harus berhati-hati dalam menentukan obat, terutama per oral/yang di makan, di oles atau di vakum, baik jenis ataupun cara pemakaiannya. Karena kalau dilakukan dengan sembarangan, tidak sesuai dengan yang seharusnya, apalagi tanpa mengetahui penyebab disfungsi ereksi, justru akan menimbulkan efek samping yang  akan memperberat kondisi disfungsi ereksinya.  Karena itu, sebaiknya, berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter anda, agar diketahui pasti penyebabnya, sehingga tindakan terapinya pun akan memberikan hasil yang optimal dan memuaskan.



 Mesra



SUMBER  PUSTAKA  :

·         Pangkahila, W.
“Disfungsi  Ereksi”, Perpustakaan Nasional RI : Katalog Dalam Terbitan ( KDT ), cetakan 1, Ikatan Dokter Indonesia ( IDI ), 2006.
·         Anugroho,D,
“Referensi Lengkap Disfungsi Ereksi”, Kabar Indonesia, Feb-2008
·         Krishnamurti, S,
“Impotence, Erectile Dysfunction”, American  Medical Assciation, March-2006
·         Boloa, ER  et al
“ Testosterone use in men with sexual dysfunction : a systematic review and meta-analysis of randomized placebo-controlled trials, Mayo Clin Proc. , Jan- 2007.
·         Guidelines on the Management of Erectile Dysfunction, British Society for Sexual Medicine,2007
·         Erectile Dysfunction, NHS Clinical Knowledge Summaries, 2008
·         Guidelines on Erectile Dysfunction, European Association of Urology, 2005
·         Erectile Dysfunction, The Merck Manual of Geriatrics, copyright Merck & Co, Inc,1995-2009
·         Disfungsi ereksi (DE) psikogenik banyak dialami usia muda,Fajar Qimi on line, agustus 2008
·         Shalat Membantu Penderita Disfungsi Ereksi,  Hidayatullah.com, agustus 2009
·         Cegah Disfungsi Ereksi lewat Rutinitas Bercinta, Okezone.com, 2009
·         Wikipedia, ensiklopedia bebas, mei 2009
 
 
 
 

Subscribe

 

Fri, 9 Oct 2009 @14:49


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 3+5+0

Copyright © 2010 Atik Sutisna · All Rights Reserved
Proudly Powered by sitekno